Prabu Sampulur memanggil topeng-topeng tersebut dengan sebutan BABAGUG atau NGABAGUG (diam tak bergerak), karena dipasang dipohon setelah adanya Sanca Manik dan Sanca Ronggeng ke wilayah itu, baru topeng-topeng tesebut dijadikan perlengkapan tari-tarian. Prabu Sampulur tidak begitu lama menempati Wilayah Tawang Gantungan itu, akhirnya diganti oleh salahsatu dari orang kepercayaannya yaitu Margadati, sebagai penerus kekuasaan.
Margadari yang mempunyai ide atau cara supaya terciptanya keserasian antara gerakan dengan alat musik awalnya hanya kayu yang berlubang. Karena proses alam yang dipakai dipukul dengan kayu hingga keluar bunyi-bunyian. Jika mendapatkan hewan buruan, mereka menari-nari berkeliling sambil memakai topeng dengan atributnya bedanya Margadati menambahkan kolotok Kayu yang digoyang-goyangkan sebagai alat musik tambahan pengiring tarian dan juga kayu yang berlubang memanjang dipukul-pukul menjadikan suara riuh rendah, karena suara yang dikeluarkan dari alat musik itu Margadati memanggil orang-orang yang memakai topeng beserta atributnya itu dengan sebutan BEBEGIG, yang awalnya dari kata BABAGUG atau NGABAGUG (diam tak bergerak) dibantu oleh Sanca Manik & Sanca Ronggeng juga Masyarakat yang ada diwilayah tersebut, margadati menyarankan Bungbang Darat (Membuka Lahan Untuk Pertanian), juga menganjurkan memelihara kerbau disamping tenaganya bisa dimanfaatkan, juga dagingnya bisa dimakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar