BEBEGIG SUKAMANTRI
Sabtu, 13 Agustus 2011
SEDIKIT CATATAN SEJARAH CIKAL BAKAL BEBEGIG SUKAMANTRI
Desa Sukamantri terletak disebelah Utara Kabupaten Ciamis, berbatasan langsung dengan Kabupaten Majalengka. Aktivitas warga masyarakatnya sebagian besar berdagang dan bertani, suasananya yang sejuk dingin dikelilingi pegunungan dengan ketinggian wilayah 700 - 950 meter diatas permukaan laut (DPL). Desa yang subur, adem tentrem itu ternyata memiliki seni budaya tradisional yang cukup kuno, yang sampai sekarang masih terlpelihara dengan baik secara turun temurun.
Nama kesenian itu adalah BEBEGIG SUKAMANTRI, kenapa demikian, karena memeang hanya ada di Desa Sukamantri Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
Bebegig, berkaitan erat dengan wilayah sebelah Utara Desa Sukamantri, yang disebut Tawang Gantungan, sebuah bukit dengan hutan larangan yang masih dianggap keramat dan angker itu dipercaya masyarakat sekitar sebagai bekas kerajaan. Memiliki luas wilayah sekitar 3,5 Ha, dengan ketinggian 950 M DPL dan termasuk hutan alam kayu lain (HAKL). Bukit itu sedikit berbeda dengan bukit yang ada disekitarnya, dibagian lembahnya terdapat 3(tiga) parigi (parit) besar yang melingkarinya. Hal itu tidak ditemukan diwilayah lain, dibawahnya ada lereng terjal yang disebut oleh masyarakat dengan nama Panggeleseran, dibawah Penggelesaran sungainya mengalkirkan air jernih dari mata air yang ada disekitar lokasi itu.
Orang yang berkuasa diwilayah Tawang Gantungan pada waktu itu adalah Prabu Sampulur, yang dikenal sakti dan juga cerdik. Untuk menjaga didaerah tersebut dari orang yang punya niat jahat, dibuatlah topeng-topeng dari kulit kayu yang dibuat sedemikian rupa menyerupai wajah yang menyeramkan. Rambutnya terbuat dari ijuk kawung (Aren) yang terurai panjang kebawah, dilengkapi atribut mahkota dari kembang bubuay dan daun Waregu yang tersusun rapi diatas kepala topeng, dihiasi kembang hahapaan dan daun pipicisan. Atribut tersebut diambil dari tanaman liar yang tumbuh subur di daerah tawang gantungan, selintas biasa saja atribut yang dipasang di topeng tersebut, padahal beberapa atribut ternyata memilliki atau mengandung filosofi kehidupan yang sangat dalam.
Prabu Sampulur selalu menyerahkan daun Waregu Pancawarna dan kembang bubuay. Daun Waregu Pancawarna bukan berarti setiap helai daunnya warna-warni, melainkan hanya simbol kebaikan atau kebahagiaan. Sedangkan bunga yang keluar dari pohon sejenis rotan yang disebut bubuay itu ternyata mengandung filosofi kehidupan yang sangat berarti, dilihat dari bentuk bunga yang tersusun rapi berurutan, sebagai simbol runtut raut, sauyunan (kebersamaan), silih asah, silih asih, silih asuh, stiap helai bunganya menempel kuat di manggarnya (tangkainya). Kuatnya kebersamaan secara turun temurun tidak akan lepas dari pecah.
Selanjutnya topeng-topeng kulit kayu yang dibuat oleh Prabu Sampulur dipasang dipohon-pohon besar yang ada disekitar Tawang Gantungan konon, karena kesaktiannya bila ada orang yang berniat jahat melihat topeng tersebut seolah-olah melihat makhluk tinggi besar menyeramkan dan membuat takut orang itu.
Prabu Sampulur didatangi 2 orang pendatang ke tempat tersebut (Tawang Gantungan), orang itu bernama Sanca Manik dan Sanca Ronggeng, prabu sampulur sendiri mempunyai 17 orang yang bisa dipercaya dan bisa membantu termasuk Sanca Manik dan Sanca Ronggeng.
Kehidupan ditempat tersebut hanya bertani alakadarnya, bisa saja, dan berburu hewan apapun yang kiranya bisa dimakan. Sanca Ronggeng selalu menari-nari kegirangan bila mereka mendapatkan hewan buruan dan diikuti oleh yang lainnya sebagai ungkapan rasa gembira, senang. Karena keseringan melihat gerakan Sanca Ronggeng menari itu Prabu Sampulur teringat topeng yang dipasang dipohon dan Sanca Ronggeng adalah orang pertama yang memeakai topeng dan atributnya. Semenjak itu setiap mendapatkan hasil buruan mereka selalu menari memadukan jurus-jurus beladiri & tarian sambil memakai topeng. Diantara mereka, Sanca Ronggenglah yang paling lihai menari dan mengajarkan 7 gerakan tari yang juga dipadukan dengan jurus beladiri, kepada orang-orang disekitarnya.
Oleh: Bayu Wirasantana
KOLOTOK BEBEGIG SUKAMANTRI
Prabu Sampulur memanggil topeng-topeng tersebut dengan sebutan BABAGUG atau NGABAGUG (diam tak bergerak), karena dipasang dipohon setelah adanya Sanca Manik dan Sanca Ronggeng ke wilayah itu, baru topeng-topeng tesebut dijadikan perlengkapan tari-tarian. Prabu Sampulur tidak begitu lama menempati Wilayah Tawang Gantungan itu, akhirnya diganti oleh salahsatu dari orang kepercayaannya yaitu Margadati, sebagai penerus kekuasaan.
Margadari yang mempunyai ide atau cara supaya terciptanya keserasian antara gerakan dengan alat musik awalnya hanya kayu yang berlubang. Karena proses alam yang dipakai dipukul dengan kayu hingga keluar bunyi-bunyian. Jika mendapatkan hewan buruan, mereka menari-nari berkeliling sambil memakai topeng dengan atributnya bedanya Margadati menambahkan kolotok Kayu yang digoyang-goyangkan sebagai alat musik tambahan pengiring tarian dan juga kayu yang berlubang memanjang dipukul-pukul menjadikan suara riuh rendah, karena suara yang dikeluarkan dari alat musik itu Margadati memanggil orang-orang yang memakai topeng beserta atributnya itu dengan sebutan BEBEGIG, yang awalnya dari kata BABAGUG atau NGABAGUG (diam tak bergerak) dibantu oleh Sanca Manik & Sanca Ronggeng juga Masyarakat yang ada diwilayah tersebut, margadati menyarankan Bungbang Darat (Membuka Lahan Untuk Pertanian), juga menganjurkan memelihara kerbau disamping tenaganya bisa dimanfaatkan, juga dagingnya bisa dimakan.
Margadari yang mempunyai ide atau cara supaya terciptanya keserasian antara gerakan dengan alat musik awalnya hanya kayu yang berlubang. Karena proses alam yang dipakai dipukul dengan kayu hingga keluar bunyi-bunyian. Jika mendapatkan hewan buruan, mereka menari-nari berkeliling sambil memakai topeng dengan atributnya bedanya Margadati menambahkan kolotok Kayu yang digoyang-goyangkan sebagai alat musik tambahan pengiring tarian dan juga kayu yang berlubang memanjang dipukul-pukul menjadikan suara riuh rendah, karena suara yang dikeluarkan dari alat musik itu Margadati memanggil orang-orang yang memakai topeng beserta atributnya itu dengan sebutan BEBEGIG, yang awalnya dari kata BABAGUG atau NGABAGUG (diam tak bergerak) dibantu oleh Sanca Manik & Sanca Ronggeng juga Masyarakat yang ada diwilayah tersebut, margadati menyarankan Bungbang Darat (Membuka Lahan Untuk Pertanian), juga menganjurkan memelihara kerbau disamping tenaganya bisa dimanfaatkan, juga dagingnya bisa dimakan.
BEBEGIG AING (OUR BEBEGIG)
Inyo Rake adalah seorang musisi seni modern yang berfikiran positif akan keberlangsungan budaya kolosal. Dia mencurahkan tenaga dan fikirannya dalam sebuah karya yg kami pandang tidak bisa dinilai dengan materi sebagai rasa penghormatan pada para pendahulunya. Lagu Bebegig Aing adalah salah satu karyanya yang menceritakan filosopi sosok bebegig. Penghargaan sebesar-besarnya untuk Inyo Rake.
Syair: BEBEGIG AING, oleh: Bayu Wirasantana dan Inyo Rake
Menari-nari berputar tandai tetap lajunya kehidupan
Seolah-olah maknamu menyiratkan makmur alam pedesaan
Membantu petani tuk menjaga sawahnya…dari aib-aib yang kotori dunia
Hiruk pikuk dosa kaum-kaum pendusta yang menjajah alam dan sesakan dada
Bebegig aink kau anggap hantu malam dengan rupa menyeramkan
Seringai mistis taring-taring yang tajam jangan kau anggap cerminan
Hati siapa sangka dan jangan kau gambarkan buruk rupa seburuk hati manusia
Elok cantik wajah bukan satu jawaban bersih dari segala pringai busuk, pendusta
Bebegig aink…alam lestari
Bebegig aink…kau tak kan mati
Mahkota gimbal lain hartina kebal, topeng “garang” teu rek perang
Awakna hideung tanda-tanda nu ludeung, sora tarik lin rek sirik
Bebegig nu garang…bebegig keur hariwang
Nempo jalma-jalma nu geus sarawan
Bebegig tah datang… kaluarna ti sarang
Dan kau tlah buktikan bahwa kau tak menjilat
Bebegig aink…..simbol berani….
Bebegig aink…..ayo menari……
Bebegig aing…..tetap menari…
Bebegig aing…..jangan berhenti….
SELINTAS TENTANG BEBEGIG SUKAMANTRI
Bebegig Sukamantri adalah kesaksian bisu akan tradisi seni gotong royong kreatif yang amat sangat hati ini merendah, begitu besar curahan tenaga, pikiran, dan juga curahan cinta yang ada di dalamnya, seni Bebegig Sukamantri merupakan kreasi banyak tangan insan Sukamantri karena melibatkan ragam kepandaian, perangkat, dan tahap proses yang berkaitan sebagai bentuk kearifan seni tradisi lokal selama berabad-abad.
Setiap orang bisa memainkan seni Bebegig Sukamantri, namun tidak satu orangpun yg mengetahui secara persis kapan pertamakali seni budaya tradisional Bebegig Sukamantri itu lahir. Bebegig Sukamantri adalah milik Desa Sukamantri Kec. Sukamantri Kab. Ciamis Jawa Barat, yang sepantasnya diakui dan tanggung jawab kita semua untuk ikut melestarikan budaya turun temurun sebagai sebuah pengabdian indah dari para penerus kearifan lokal itu.
Tidak ada perhitungan akan pengabdian yang telah di berikan, sungguh suatu tradisi yang membuat hati ini merendah, bagaimana kalau mereka punah...?
Kami berharap kita semua selalu membuka mata, telinga, dan hati yg ada pada sisi manusia dari setiap kreatifitas, sisi kebendaan, segala yang kasat. Siapapun bisa merebut pola, corak, warna, hias, maupun proses pembuatan Bebegig Sukamantri, namun kearifan seni tradisi kita tidak akan pernah dapat tercerabut karena telah mengakar dalam sendi-sendi budaya di tanah kita.
Kelangsungan kearifan seni budaya tradisional Bebegig Sukamantri akan sangat bergantung pada bagaimana kita semua menghormati tradisi yang sudah berjalan begitu lama, mari kita bersama-sama menjaga agar seni budaya tradisional Bebegig Sukamantri bisa tumbuh dan berkembang seribu tahun lagi. Amin....
Setiap orang bisa memainkan seni Bebegig Sukamantri, namun tidak satu orangpun yg mengetahui secara persis kapan pertamakali seni budaya tradisional Bebegig Sukamantri itu lahir. Bebegig Sukamantri adalah milik Desa Sukamantri Kec. Sukamantri Kab. Ciamis Jawa Barat, yang sepantasnya diakui dan tanggung jawab kita semua untuk ikut melestarikan budaya turun temurun sebagai sebuah pengabdian indah dari para penerus kearifan lokal itu.
Tidak ada perhitungan akan pengabdian yang telah di berikan, sungguh suatu tradisi yang membuat hati ini merendah, bagaimana kalau mereka punah...?
Kami berharap kita semua selalu membuka mata, telinga, dan hati yg ada pada sisi manusia dari setiap kreatifitas, sisi kebendaan, segala yang kasat. Siapapun bisa merebut pola, corak, warna, hias, maupun proses pembuatan Bebegig Sukamantri, namun kearifan seni tradisi kita tidak akan pernah dapat tercerabut karena telah mengakar dalam sendi-sendi budaya di tanah kita.
Kelangsungan kearifan seni budaya tradisional Bebegig Sukamantri akan sangat bergantung pada bagaimana kita semua menghormati tradisi yang sudah berjalan begitu lama, mari kita bersama-sama menjaga agar seni budaya tradisional Bebegig Sukamantri bisa tumbuh dan berkembang seribu tahun lagi. Amin....
Langganan:
Komentar (Atom)


